Informasi Tentang AirAsia Indonesia

AirAsia Indonesia merupakan maskapai pernerbangan berbiaya murah yang melayani rute domestic dana internasisonal di Indonesia dan merupakan lisensi internasional dari AirAsia Berhad dari Malaysia. Markas penerbangan untuk AirAsia Indonesia adalah di Bandara Internasional Soekarno – Hatta, di Tangerang. Air Asia Indonesia melayani sepuluh rute domestik ke penjuru daerah Indonesia, dua rute penerbangan ke Thailand dan Australia, satu ke Singapura, dan empat ke Malaysia. AirAsia Indonesia 100% menggunakan pesawat AirBus dalam pengoperasiannya dan pada tahun 2011, telah berhasil menembus posisi puncak sebagai pemasok penerbangan internasional terbanyak di Indonesia, yang angkanya mendekati prosentase lima puluh persen.

Sejarah AirAsia Indonesia

Pada awalanya, AirAsia Indonesia merupakan penerbangan domestik bernama Awair yang merupakan akronim dari Air Wagon International. Maskapai ini awalnya milik dari Abdurahman Wahid, yang memili 41% saham dari penerbangan tersebut, sebelum akhirnya ia lepaskan setelah terpilihnya beliau sebagai presiden Indonesia kala itu. Penerbangan Awair mulai beroperasi pada 2000 namun kemudian berhenti beroperasi pada 2002. Empat tahun kemudian, Desember 2004, Awair mulai menjadi asosiai penerbangan domestik untuk AirAsia yang berbuah pada setahun kemudian yaitu tepatnya pada 1 Desember 2005, Awair resmi berganti naman menjadi AirAsia Indonesia, dengan persentase kepemilikan dari AirAsia Berhad (Malaysia) sebesar 49%, dan Fersindo Nusaperkasa (Indonesia) sebesar 51% yang menunjukkan bentuk hukum dari pemerintahan Indonesia yang melarang negara asing untuk memiliki sepenuhnya kepemilikan penerbangan di Indonesia. Pada perkembangannya, AirAsia Indonesia kemudian menjadi salah satu penerbangan yang mulai dikenal oleh masyarakat terutama dengan gebrakan harga murah yang mengarah pada target bahwa setiap orang dapat memiliki kesempatan untuk bepergian dengan pesawat di Indonesia dengan harga yang murahs tentunya. AirAsia sempat juga berniat untuk membeli saham yang dimiliki oleh Batavia Air yang pada saat itu sempat mengundang berbagai kontroversi namun pada akhirnya pembelian dibatalkan.